sesuatu yang telah pergi. apakah dapat diterima kembali? 

  • Pertanyaan itu melintas dalam benakku setelah pertemuan itu. Aku dan dia bertemu sore tadi. Sebelumnya dengan rasa entah seperti apa, aku terus terusan melakukan penolakan. namun, pertemuan itu masih saja dapat terlaksana. Ya dia. Lelaki yang pernah singgah dalam kehidupan ku. Menurutmu kenapa kita harus melakukan pertemuan ini? Klise sekali jika orang orang menyebutnya”silaturahmi” namun ada sesuatu yang diselipkan dalam pertemuan tersebut. “Kerinduan akan masa lalu” bukankah sudah jelas ? Karna kami sudah tak saling peduli lagi. Karna…… Kita sudah berakhir. Aku tak ingin memutar kembali video video lama dalam otakku. Melihat wajahnya, senyumnya. Aku seperti ingin segera pergi. Ingin cepat cepat menyudahi pertemuan ini. Aku tak tahan. 
  • Mungkin sikap ini muncul karna aku telah lama sendiri, atau bisa saja karena aku memilih untuk memberikan hati kepada lelaki lain yang tak kunjung datang menemuiku hingga aku memposisikan diriku sebagai wanita yang sedikit menjauh dari lelaki manapun karna berharap pada orang yang kumau. Aku tak mengerti kenapa aku bisa sesetia itu menunggunya dan begitu peduli padanya. padahal dalam hidupku, aku sering mengabaikan orang orang, terutama para lelaki. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun perasaan ku tak kunjung berubah. Aku tak mengerti. Bagaimana bisa seorang yang ditinggalkan, dicampakkan dan seolah di buang malah menunggu dengan setia. Ironi sekali. 
  • Lalu karna kesetiaan hampa itu aku sering dihampiri rasa sedih, kecewa, atau bahkan marah karena hal hal yang tak jelas. Bisakah aku menata hati kembali pada ruang yang nyaman? Atau pada hati yang pernah kutinggalkan? Bisakah itu terjadi? 
Iklan

puisi 

Aku bukan Tuhan yang tak pernah tidur 

Aku perlu istirahat 

Karena untuk memikirkan mu dalam hidupku

Memerlukan lebih banyak energi 

–tasy’

Hari ini pertemuan pertama kita.

Taukah kamu, hal apa yang setelah itu aku lakukan? 

Aku pergi dengan segera menghadap tuhan. Berlari untuk menyemogakan pertemuan seperti ini akan segera menjadi kebiasaan. 

–tasy’ 

Kamu ingat tidak saat dulu kita bersama 

Kamu pernah menggandeng tanganku dengan begitu erat

Katamu 

“Awas banyak kendaraan lewat. Kamu harus hati hati”

Padahal aku sangat tau.

Trotoar ini khusus untuk pejalan kaki. 

–tasy’ 

Yang aku suka adalah kamu

Yang kamu suka adalah dia 

Tak apa 

Asal kita sama sama menjadi penyuka saja sudah lebih dari cukup. 👸

–tasy’

Ketika kamu tak kunjung membalas pesanku 

Itu artinya 

Aku harus tidur 

Tak perlu lagi menunggu 

Biarkan saja kita bertemu dalam mimpi indah ku. 

Karena memang benar, memimpikan mu adalah hobbi baruku 

–tasy’ 

Hingga hari ini aku masih saja menunggumu.

Dan saat ini kamu bukanlah miliku.

Entah kalo esok.

Mungkin saja kamu akan tetap tidak bisa ku miliki.

Entah jika lusa.

Mungkin aku akan bisa mengerti dengan sangat bahwa kamu bukan untukku.

Dan saat itu terjadi. 

Mungkin saja aku akan berhenti menunggu.  

–tasy’
Libur panjang kali ini  mungkin saja kamu pulang.

Bisakah kita bertemu sebentar?

Aku mau melihatmu.

Aku mau menatap lekat matamu.

Mau bahkan mauuu sekali. 

Namun aku juga lupa kemungkinan kemungkinan yang lain. Aku ceroboh melupakan salah satu kemungkinan terbesar yang amat mematikan. 

Mungkin saja, kamu telah dimiliki.

Dan mungkin saja kamu tak mau melihatku lagi.

Ah, aku minta maaf atas kelancanganku karna terlalu sering merindukan mu sesuka hati 🐦

–tasy’

Sepertinya aku yang terlalu perasa.

Hingga apapun yang kau katakan terasa bermakna. 

Terkadang aku tak kuasa membedakan apa itu rasa dan biasa.

Mungkin akan lebih baik menjauhkan segala rasa Agar aku tak mudah merasa istimewa lalu sangat kecewa.🐦 

–tasy’

Kamu tak tau kan apa yang ada dalam hatiku 

Tapi aku tau banyak hal tentang kamu. 

Senyummu yang tak pernah pudar

Matamu yang selalu meneduhkan 

Serta ceriamu yang selalu saja membuat hariku indah.

Bahkan disaat bahagia itu, aku hanya bisa melihatmu diam diam. 

Aku rela menjauh darimu. Menjaga jarak agar kau tak terganggu dengan lekatnya tatap mataku.  

Ironisnya, ini menjadi salah satu hal yang amat kusukai dalam hidup. 🐦

–tasy’

Bukannya aku tak ingin melupakan kamu 

Hanya saja kamu terlalu berkesan

Kamu 

.

.

.

Ah 

Untuk menuliskan tentang kamupun 

Aku tak sanggup. 

-tasy 

Aku berada dalam ruangan tanpa dinding

Berada dalam kamar tanpa kasur 

Berada dalam rumah tanpa isi dan jendela tanpa kaca. 

Sudah sejak lama aku ditakdirkan memiliki separuh hati.

Namun sejak lama pula ia enggan disatukan

Apalagi untuk hati lain yang telah dimiliki. 🐦
–tasy’ 

Aku adalah seorang wanita

Lalu hal apa yang bisa aku lakukan saat merindu?

Bertanya kapan kau akan pulang dan mengatakan aku ingin bertemu? 

Hal itu tentu tak bisa kulakukan lagi. Mengingat, bertahun tahun lalu kita telah usai.

Namun, mengapa aku masih merasakan hati ini tertaut padamu? 

Coba jelaskan. Karna aku hampir gila memikirkan. 

–tasy’

Aku tau jarak antara kamu dan aku tak lagi dekat

Tak lagi bisa untuk sering bertemu 

Aku tak tau wanita mana yang lagi lagi mencoba mengenali hatimu 

Aku hanya bisa menantimu datang 

Itupun jika kau mau datang dan pulang.

Jika kau tak ingin. Maka, hal apa lagi yang bisa kulakukan selain percaya bahwa kau akan  “kembali pulang”. 🐦
-tasy’

Gila memang 

Tbtb saja aku ingin kamu 

Tak peduli sejauh apa pun kamu, aku tetap ingin bertemu.

Sulit sekali membujuk hati ini untuk mengurungkan rindu.

Dan satu hal yang perlu kau tau, Aku hanya 

.

.

.

.

Ingin kamu. 
-tasy

Setiap orang bergerak

Tapi kecepatannya berbeda

Ada yang bergerak TERUS 

dan ada yang bergerak sibuk DITEMPAT 

Kali ini Juni tak lagi sama

Empat tahun yang lalu. Tepat dihari perayaan ke sekian ku, kamu datang membawa hadiah yang indah. Kamu memang tak langsung memberiku seperangkat alat solat dengan mukena bordir mewah. Namun, taburan mawar itu, nyala lilin yang berbentuk hati dan segala tetek bengek yang kau siapkan lebih dari cukup untuk menilai rasa hatimu padaku Jun. Aku terkesan oleh caramu yang berhasil memikat hati hampa ini. Ya, kamu. Jelmaan lelaki yang sudah lama aku tunggu, kini telah datang. Tentu saja banyak  hal yang aku suka tentang mu. Sejauh ini aku tak pernah lupa ketika matamu menatap lekat wajahku, serta hangatnya pelukan pelukan itu. Aku akan selalu menyukainya. Apapun itu, asal semua tentang mu, aku pasti suka.

Jun, empat tahun terakhir kamu selalu ada disetiap langkahku, disetiap masa senang dan sulitku. Menopang seluruh keluh kesahku, kamu menjadi sumber kebahagiaan ku. Ah, kamu selalu saja membuat aku jatuh hati setiap hari. Terimakasih Jun, karna ini membuat aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Terimakasih juga telah mengenalkan keluarga kecil mu padaku. Terutama untuk adik lucumu yang selalu mengundang tawa saat kita berkumpul bersama. Aku selalu saja merindukannya. Rindu itu tak akan pernah mudah sirna, karna kamu istimewa.

Kau tau, ditahun pertama aku terkadang merasa sulit memahami apa yang kau mau tentang hubungan kita. Perbedaan usiamu dan usiaku yang bisa dibilang cukup jauh membuat aku sedikit tak bergairah saat kita bercengkrama. Aku tak mengerti dengan cara pandang mu yang terlalu dewasa. Membuat segalanya terlihat lebih rumit dari yang ku kira. Kau bilang, kamu ingin menyembunyikan hubungan ini dari orang lain. Aku tak mengerti, bagaimana bisa kamu melakukan nya padaku. Maksud ku, apakah aku adalah wanita kedua hingga kau harus melakukan nya? Itulah perdebatan hari pertama kita, apa kau mengingatnya Jun? Tentu saja kau ingat, karna aku tak terima dan langsung menolak mentah mentah ajakan mu itu. Aku tak lagi peduli dengan bunga bunga yang kau tebarkan. Tak lagi memikirkan lilin lilin yang kau susun. Aku memikirkan harga diriku. Namun, perlahan kau raih tanganku, menggenggam nya dengan lembut dan meyakinkan bahwa aku bukanlah wanita kedua, kamu hanya ingin menjaga hubungan ini menjadi baik baik saja. Kamu bilang, “aku tak mau suatu saat nanti kita akan berakhir. Jadi, teruslah seperti ini. Berteman baik. namun, aku milikimu”. Apa artinya ini? saat itu aku benar benar tak pernah mengerti. Apa kamu melakukan ini hanya karena kita berada pada tempat yang berbeda. Apa karena jarak yang menjadi pemisah diantara kita? Apa karna itu Jun ? Ah, aku tak sanggup bila harus menuntut banyak. Aku seperti terhipnotis oleh sentuhan lembutmu. Maka, aku hanya bisa kembali tersenyum saat kau memintaku untuk terus bersama. Aku sadar, aku jatuh ke dalam perangkapmu. Aku, mencintaimu.

Namun nyatanya  menjalani hubungan seperti ini tak mudah, karna tak ada aturan yang jelas. tanpa status apa apa maka aku tak berhak cemburu padamu. Aku bahkan tak pernah tau banyak siapa teman spesial mu. Bahkan, teman biasa mu pun aku tak tahu. Siapa yang sering menguntit mu dan masalah masalah sosial mu, aku kadang tak bisa menjamahnya. Kita hanya berbicara sekedarnya, politik yang terjadi di negara ini, yang sebenarnya tak pernah sedikitpun kupedulikan. Kau tau sejujurnya sebelum kita bercengkrama aku sedikit banyak mempelajari setiap tema yang sering kau ungkapkan. Bagiku melakukan hal seperti ini bukanlah hal sulit, aku tau karna kau seorang yang idealisme. Tapi hal itulah yang sering membuat engkau terkesan angkuh, bahkan amat sangat. Padahal aku tau, kamu adalah seorang yang lembut, dapat menghangatkan hati. Ah, tahun pertama ini cukup sulit untuku. Namun, terimakasih telah membawa sekeping hati yang lainnya. Yang telah aku serahkan padamu.
*To be continued

Kita perlu saling memahami

Selamat malam. Aku akan membuka hati untuk sedikit menulis tentang apa yang ingin aku tulis disini. Hal hal yang mungkin akan kamu sukai. Hal hal yang mungkin akan membuat pandangan mu berubah. Hal hal yang tak bisa aku ungkapkan secara langsung padamu.

…….

 Untuk kau ketahui saja. Semua yang aku akan ceritakan disini bisa saja mengenai banyak hal. Kehidupanku hari ini,masa lalu atau hanya sebuah imajinasi. Untuk itu aku ingin belajar bagaimana caranya agar hal yang ingin aku sampaikan menjadi terasa nyaman saat kau baca. Ayolaaah, Izinkan aku menulis sesukaku. maka dapat ku pastikan aku selalu mengizinkan engkau membaca sesukamu.